Thursday, October 24, 2013

My Beloved Village, DELANGGU


Sinopsis
saya slalu masih ingat lagu jaman dulu yang satu ini "Desaku yang kucinta pujaan hatiku, tempat Ayah dan Bunda dan handai taulanku. tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. selalu kurindukan Desaku yang perma." kalau denger lagu ini pasti ingat rumah.wkwkwk. Kota Delanggu merupakan kota yang berada di wilayah Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah.Kota yang terletak diantara 2 kota besar budaya Indonesia, kota Yogyakarta dan kota Solo. Dua kota yang juga berpengaruh bagi budaya di kota Delanggu itu sendiri.
Kota Delanggu, kota kecamatan yang sejak jaman penjajahan Belanda sudah terkenal sebagai bunker atau lumbung pertanian. Bukti dari penjajahan Belanda di kota Delanggu adalah pabrik tua yang sudah tak beroperasi lagi yaitu Pabrik Karung Goni. Dan disekitar pabrik itu berdiri bangunan-bangunan tua, rumah bagi sinder (pejabat Belanda) yang sudah rusak dan tidak terawat.
     Warga kota Delanggu bisa dikatakan banyak yang merantau ke luar daerah, terutama di Jakarta. Dan harapan kami sebagai penulis di blog ini adalah sebagai sarana komunikasi bagi Cah Delanggu dimanapun berada terhadap kota kelahiran mereka. Dan penulis juga berharap bahwa mereka tidak akan melupakan kota tercintanya ini. Kota Delanggu, my lovely city.

Kecamatan Delanggu terbagi oleh 16 desa, yaitu:
1. Desa Delanggu
2. Desa Gatak
3. Desa Sabrang
4. Desa Tlobong
5. Desa Kepanjen (iki looooh desaku)
6. Desa Segaran
7. Desa Sidomulyo
8. Desa Karang
9. Desa Mendak
10. Desa Krecek
11. Desa Sribit
12. Desa Butuhan
13. Desa Jetis
14. Desa Dukuh
15. Desa Banaran
16. Desa Bowan
Kecamatan Delanggu pemekaran wilayahnya mengarah ke utara dan selatan. Kota Delanggu atau pusat dari kota sendiri berada di 3 wilayah desa yaitu desa Delanggu, desa Gatak dan desa Sabrang. 

Kota Lumbung Padi? Haaaaaaaaaaaa
Kota Delanggu dalam perkembangannya menjelma menjadi sebuah lumbung padi/beras yang tersohor di negeri ini. Beras yang dihasilkan dari sawah-sawah di Delanggu memang terkenal enak dan pulen yaitu produksi beras Rojolele. Beras Rojolele Delanggu menjadi primadona bagi rakyat Indonesia sekitar tahun 1970-an hingga sekarang.

Masih pantaskah menjadi lumbung BERAS???
Kota Delanggu, bagi orang yang sering bepergian antara Yogjakarta-Solo akan begitu familier. Yupz, kota Delanggu memang terletak diantara 2 kota besar tersebut. Kota kecamatan yang masuk wilayah kabupaten Klaten. Kota Delanggu, kota kecil yang damai dan indah akan persawahan yang hijau. Kota yang bagiku masih bisa dikatakan alami, karena pada dasarnya perubahan yang terjadi dikota ini tidak begitu besar. Mungkin cuma prasarana umum saja yang banyak berubah seperti pasar Delanggu, puskesmas dll, tetapi tidak mengurangi ciri khasnya.
Bagi banyak orang luar kota atau bahkan hampir kebanyakan orang di kota besar Pulau Jawa ini, Delanggu akan dikenal sebagai gudang beras. Delanggu sebagai produsen beras terbesar di Jawa (katanya sih).Beras Delanggu, kalo orang menyebutnya, terkenal karena pulen, empuk dan enak mengenyangkan. Berbeda dengan beras-beras produksi daerah lain, yang katanya keras(atos kalo bahasa jawanya), ga pulen dan tidak putih.Salah satu jenis beras Delanggu yang disukai adalah beras Rojolele. Ya, beras Rojolele memang rasanya berbeda dengan jenis beras lainnya. Empuk dan pulen. Walaupun daerah lain juga ada produksi Beras Rojolele-nya tetapi Rojolele Delanggu berbeda. Ya kalau kurang percaya, silakan pembaca mencobanya sendiri.Tetapi hati-hati kalau membeli beras Delanggu karena dipasaran banyak sekali beras tiruan Delanggu, padahal itu bukan asli produksi Delanggu.
Ada satu hal yang mengganggu benakku beberapa tahun belakangan ini. Bukan karena banyaknya beras Delanggu tiruan, tetapi padi yang akan dijadikan sebagai beras Delanggu itu sendiri. Lho memangnya ada apa? Pembaca mungkin akan bertanya begitu. Khan Delanggu, persawahannya hijau dan luas, air juga melimpah. Ya itu dulu, kalo sekarang lain. Dari survey yang saya lakukan, sebenarnya luas persawahan di Delanggu sudah berkurang hampir setengahnya. Sudah banyak yang berubah menjadi perumahan-perumahan baru dan bangunan lainnya.Kenyataan lain, padi yang selama ini diolah menjadi beras oleh penggilingan2 beras. Delanggu adalah berasal dari daerah diluar Delanggu seperti Sragen, Karanganyar atau juga masih dalam wilayah kabupaten Klaten itu sendiri.Walau produksinya lebih tapi kalo padinya diambil dari luar Delanggu apakah masih bisa disebut beras Delanggu?
Selain itu beberapa bulan belakangan ini, pertanian padi di kota Delanggu mengalami kelesuan dan gagal panen dikarenakan mewabahnya hama wereng. Dan tak sedikit para petani yang sementara waktu tidak menanam padi dilahan persawahannya. Itulah yang jadi pikiranku selama ini. Masih pantaskah nantinya Delanggu disebut sebagai Gudang Beras?  


Kuliner Khas 
Nasi Pecel
Nasi pecel, salah satu makanan khas dari Delanggu Jawa Tengah. Kumpulan sayur yang telah direbus, biasanya terdiri dari tauge, kangkung, bayam, kacang panjang dan lain-lain disiram oleh bumbu pecel khas yang terbuat dari kacang. Adonan Bumbu kacang yang pas menjadi andalan dari makanan khas Jawa yang satu ini. Bumbu kacang nasi pecel menyajikan cita rasa manis dan pedas yang terpadu secara sempurna sehingga membuat candu buat banyak orang. Sebagai pelengkap, kita bisa memilih berbagai gorengan, mulai dari tempe, tahu, kerupuk gendar, kerupuk aci, telor ceplok, bakwan dan lain sebagainya sebagai teman makan.

Bandeng Asin
bandeng asin di pasar delanggu, solo, bisa jadi oleh-oleh alternatif selain serabi atau karak manis. selain kuliner nasi liwet, mencoba makan nasi putih hangat dengan sambal bawang putih plus bandeng asin pun jadi wisata kuliner solo yang tak kalah sedapnya. 
  
Serabi Beras
Siapa tak kenal Serabi? pancake versi Delanggu ini sudah menjadi makanan lezat sejak dulu. Siapapun menyukai dan menikmati panganan berasa gurih dan legit ini. Serabi Beras Khas Delanggu, mulanya dibuat dari tepung beras, santan dan gula pasir. Serabi juga beradaptasi menjadi serabi yang lebih modern dengan berbagai modifikasi. Serabi pun mengalami beberapa perubahan seiring berkembangnya jaman, rasanya menjadi beragam, mulai dari keju, strawberi, nangka, pandan, kacang hingga susu. Serabi tak hanya dapat dimasak menggunakan arang tapi mulai menggunakan kompor gas.
dan masih banyak lagi ga bisa disebutin satu2, soalnya blognya ga muat.hehehehe

Obyek Wisata  
Pepohonan itu tinggi menjulang ke angkasa. Daunnya yang rindang menghadirkan kesejukan meski matahari bersinar terang. Lokasinya yang berada jauh dari perkotaan membuat kawasan ini bebas dari kebisingan serta residu asap kendaraan bermotor. Terdengar pula suara gemericik air yang mengalir langsung dari sumbernya. Kesan alami itulah yang muncul di Objek Wisata Mata Air Cokro. 
Kemurnian alam yang cukup kentara menjadikan OMAC sebagai salah satu tujuan warga menggelar upacara padusan dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan. Untuk bisa menikmati kemurnian alam dan mencoba aneka wahana permainan di dalamnya, pengunjung cukup merogoh kocek senilai Rp 6.000. Beberapa wahana permainan air seperti waterslide ukuran sedang, ember tumpah, berenang, dan lain-lain dihadirkan untuk memanjakan pengunjung. Selain wahana permainan air, pengunjung juga bisa menikmati sensasi senam jantung saat meluncur di udara melalui wahana flying fox.

Pusat Kota Delanggu, dimanakah itu??
Pusat dari kota Delanggu adalah Perempatan Kota Delanggu. Perempatan Delanggu terletak diantara 3 desa yang ada di Kecamatan Delanggu. Yaitu dibagian barat Perempatan dikuasai oleh Desa Delanggu baik itu sebelah Barat Daya maupun Barat Laut, bagian Tenggara menjadi milikDesa Sabrang dan bagian Timur Laut menjadi wilayah Desa Gatak.
Perempatan Delanggu bisa dikatakan menjadi tempat semua aktivitas warga Delanggu. Sebelah Tenggara yang merupakan daerah Desa Sabrang terletak Pasar Kota Delanggu, yang merupakan tempat aktivitas perdagangan di kota Delanggu. Didepan Pasar Kota Delanggu, diatas trotoar juga berjejer penjual2 makanan dan buah2an.Dibagian Timur Laut dan juga di bagian Barat, adalah tempat usaha-usaha perniagaan yang berupa toko-toko. Dari mulai toko pakaian, toko emas, warung makan, dll.
Perempatan Kota Delanggu juga merupakan salah satu tempat penting bagi warga Delanggu dan sekitarnya untuk melakukan bepergian. Loh, terminal Kota Delanggu khan tidak bertempat disitu?? Yups,terminal Kota Delanggu masih berada kurang lebih 1 km ke arah selatan dari perempatan Delanggu. Tapi dikarenakan Perempatan Delanggu yang berada di Jalan Utama Antar Kota Antar Provinsi, biasanya kebanyakan warga Kota Delanggu dan sekitarnya lebih memilih Perempatan Delanggu untuk tempat mencari angkutan baik itu Bus Antar Kota atau angkutan pedesaan.
Begitu pula sebaliknya, saat warga kota Delanggu sekitarnya pulang dari bepergian,mereka lebih memilih untuk turun disekitaran Perempatan Kota Delanggu. Disekitar Perempatan Kota Delanggu banyak ditemukan sarana angkutan rakyat, mulai itu dari becak, dokar, angkutan plat Kuning atau colt, bahkan tukang ojek.
Bagi warga luar kota yang masih asing dengan Kota Delanggu, Perempatan Kota Delanggu biasanya akan menjadi sarana atau tempat untuk bertanya ataupun sebagai tempat perjanjian untuk bertemu dengan rekan-rekannya. So, silakan datangi aja Perempatan Kota Delanggu bila anda ingin menuju suatu tempat disekitaran Kota Delanggu. Jangan segan untuk bertanya dengan warga Kota Delanggu. Ingat pepatah " Malu bertanya, Sesat di jalan ". :) 

Peninggalan Sejarah
Sabdariffa tinggal kenangan
Sudah tidak berpenghuni, tidak berisi, tak ada yang menghiasi, tidak juga berseri, tidak bisa direnovasi, apalagi diakuisisi. Bukan hanya ilusi, bukan pula puisi, maupun argumentasi, tapi sebuah kondisi. Dimanakah Sabdariffa yang dulu....???

Pabrik Karung Goni
Kawasan bekas pabrik karung goni yang dibangun pada masa pendudukan belanda di Indonesia, lebih tepatnya di Delanggu. Pada saat ini sudah tidak aktif namun juga belum jelas fungsi dan perawatannya oleh pemerintah Indonesia.

Stasiun Kereta Api Delanggu
Stasiun Delanggu merupakan stasiun kereta api yang terletak di Gatak, Delanggu, Klaten. Stasiun yang terletak pada ketinggian +133 M ini berada di Daerah Operasi 6 Yogyakarta. Pada masa penjajahan Belanda, Stasiun Delanggu dipergunakan untuk mengangkut karung goni untuk menyuplai pabrik-pabrik gula di sekitar Karesidenan Surakarta, dan dipergunakan juga sebagai sarana angkutan antara Surakarta dan Yogyakarta. Stasiun Delanggu memiliki 4 jalur KA.

Come here, anytime :)

Antara Angin, Arus Air, dan Pasir

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCvIPB5mQcgkaeHQhQOD5Gqzq6sWkfkxcEjxA6e5NbHu4qNgr-6kjRqWxzvLjMG1ioSMmHPSoH9YFHaskTMrkcTmkV2qQTrkvIYYjIFNG_6B80asHzPopcJcsJD5k1vKuroP3j0jTbcCQ/s1600/debu2.jpgSebuah arus air yang gemercik mencapai sebuah gurunpasir dan ternyata tidak mampu menyeberanginya. Air tersebut lenyap ke dalam butiran-butiran pasir yang halus, semakin lama semakin cepat. Arus air tersebut berteriak lantang :
"Aku tak mampu menyeberanginya, tetapi aku melihat sebuah jalan!"
Ini merupakan keadaan murid yang membutuhkan seorang guru, tetapi tidak bisa
mempercayai siapa pun, suatu keadaan
manusia yang menyedihkan.
Suara Gurun menjawab, dalam lidah
alam yang tersembunyi seraya berkata: "Angin bisa menyeberangi gurun, begitu juga engkau bisa melakukannya."
"Tetapi ketika aku mencobanya, aku terserap ke dalam pasir; dan meskipun aku melontarkan diriku ke gurun itu, aku hanya bisa menembus sedikit jarak."
"Angin tidak membenturkan dirinya ke gurun pasir." 
"Tetapi Angin bisa terbang, sedangkan aku tidak."
"Engkau berpikir dengan cara yang salah; mencoba terbang dengan dirimu sendiri adalah rancu. Biarkan Angin membawamu menyeberangi gurun."
"Tetapi bagaimana hal itu bisa terjadi?"
"Biarkan dirimu terserap ke dalam Angin."
Arus air tersebut menolak karena ia tidak ingin kehilangan individualitasnya dengan cara seperti itu. Jika melakukannya, ia mungkin tidak eksis lagi.

"Cara berpikir seperti ini," ucap sang Pasir,
"adalah suatu bentuk logika, tetapi iatidak merujuk pada realitas sama sekali. Ketika angin menyerap uap (air), ia membawanya menyeberangi gurun, dan kemudian membiarkannya jatuh kembali laksana hujan. Hujan ini kemudian menjadi sebuah sungai kembali." "Tetapi, tanya si Arus air,
"bagaimana bisa diketahui bahwa hal ini benar adanya?"
"Memang demikian dan engkau harus mempercayainya, atau engkau benar-benar akan disedot oleh pasir-pasir itu, dan setelah beberapa juta tahun akan menjadi kubangan."
"Tetapi jika itu benar, apakah aku akan menjadi sungai yang sama seperti keadaan hari ini?"
"Bagaimanapun, engkau tidak bisa tetap menjadi arus air yang sama seperti sekarang ini. Pilihan tidak terbuka untukmu; tampaknya ia harus dibuka.
Angin akan membawa esensimu, bagian terbaik dari dirimu. Ketika engkau menjadi sungai lagi di gunung-gunung di balik gurun tersebut, manusia mungkin akan memanggilmu dengan nama yang berbeda; tetapi engkausendiri, secara esensial akan tahu bahwa engkau adalah sama. Sekarang engkau menyebut dirimu sendiri serupa dan semacam sebuah sungai hanya karena engkau tidak mengetahui bagian manakah dari sungai tersebut yang menjadi esensimu."

Maka, Arus air tersebut menyeberangi gurun dengan menyerahkan dirinya ke jari-jari Angin yang menyambutnya dengan hangat, mengumpulkan ke atas secara perlahan dan hati-hati, kemudian menurunkannya dengan lembut, ke puncak-puncak gunung di sebuah negeri yang jauh. "Sekarang," ucap si Arus air,
"Aku telah memahami jati diriku."
Tetapi ia memiliki satu pertanyaan, ketika ia semakin deras, terlontarlah pertanyaan itu,
"Mengapa aku tidak bisa memahami hal ini melalui pikiranku sendiri; mengapa Pasir yang harus menyatakannya kepadaku? Apa yang terjadi jika aku tidak mendengarkan nasihat Pasir-pasir tersebut?"
Tiba-tiba sebuah suara kecil berbicara kepada Arus air itu. Suara ini datang dari sebutir pasir yang halus,
"Hanya Pasir yang tahu, karena mereka telah melihat hal ini terjadi; selain itu, mereka memanjang dari sungai ke gunung. Mereka membentuk garis penghubung dan mereka memiliki fungsi yang harus dijalankan sebagaimana segala sesuatu memilikinya. Jalan di mana arus kehidupan harus melanjutkan dirinya dalam perjalanannya telah tertulis di Pasir-pasir itu." 

(Filsafat & Logika)
No Name

[Sejarah] pidato spektakuler Presiden Soekarno !!!

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1SHzPG77lWbiVRo9GXFvKvJt_KRIuuTfX3Mc6a4GINxhMaXz1TY6pf5C9xVkvj_E5PODoSUcOETInVEf8Z8F1BnqC0yeBlGT10bLzhqapEDuMBg-C9_gMBIe431WqlutIcE854bfjIWU/s400/pidato-+soekarno.jpgSemarang 29 Juli 1956

“Mereka mengerti bahwa kita – atau mereka – djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai “imagination”,: “imagination” hebat, Saudara-saudara!!!”
Inilah pidato Bung Karno di Semarang 29 Juli 1956 yang spektakuler itu.
Di pidato penting ini Bung Karno menekankan bagaimana cara, supaya Indonesia menjadi bangsa yang berpikir besar, punya impian-impian dan fantasi besar, tidak kalah dari Amerika. Wajarlah bila Bung Karno begitu dikagumi oleh bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia. Selamat membaca.
“Saudara-saudara,
Djuga sadja pernah tjeritakan dinegara-negara Barat itu hal artinja manusia, hal artinja massa, massa.
Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia. Bahwa manusia didunia ini, Saudara-saudara, “basically” – pada dasar dan hakekatnja – adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu manusia inilah jang harus diperhatikan. Bahwa massa inilah achirnja penentu sedjarah, “The Makers of History”. Bahwa massa inilah jang tak boleh diabaikan ~ dan bukan sadja massa jang hidup di Amerika, atau Canada, atau Italia, atau Djerman, atau Swiss, tetapi massa diseluruh dunia.
Sebagai tadi saja katakan: Bahwa “World Prosperity”, “World Emancipation”, “World Peace”, jaitu kekajaan, kesedjahteraan haruslah kekajaan dunia : bahwa emansipasi adalah harus emansipasi dunia; bahwa persaudaraan haruslah persaudaraan dunia ; bahwa perdamaian haruslah perdamaian dunia ; bahwa damai adalah harus perdamaian dunia, berdasarkan atas kekuatan massa ini.
Itu saja gambarkan, saja gambarkan dengan seterang-terangnja. Saja datang di Amerika,- terutama sekali di Amerika – Djerman dan lain-lain dengan membawa rombongan. Rombongan inipun selalu saja katakan : Lihat, lihat , lihat, lihat!! Aku jang diberi kewadjiban dan tugas untuk begini : Lihat, lihat, lihat!! – Aku membuat pidato-pidato, aku membuat press-interview, aku memberi penerangan-penerangan; aku jang berbuat, “Ini lho, ini lho Indonesia, ini lho Asia, ini lho Afrika!!”
Saudara-saudara dan rombongan : Buka mata, Buka mata! Buka otak! Buka telinga
Perhatikan, perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin tjarilah peladjaran dari pada hal hal ini semuanja, agar supaja saudara saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerdjaan raksasa kita membangun Negara dan Tanah Air.
Apa jang mereka perhatikan, Saudara-saudara? Jang mereka harus perhatikan, bahwa di negara-negara itu – terutama sekali di Amerika Serikat – apa jang saja katakan tempoh hari disini ” Hollandsdenken ” tidak ada.
“Hollands denken” itu apa? Saja bertanja kepada seorang Amerika. Apa “Hollands denken” artinja, berpikir secara Belanda itu apa? Djawabnja tepat Saudara-saudara “That is thinking penny-wise, proud, and foolish”, katanja.
“Thinking penny-wise, proud and foolish”. Amerika, orang Amerika berkata ini, “Thinking penny-wise” artinja Hitung……..satu sen……..satu sen……..lha ini nanti bisa djadi dua senapa `ndak?…….. satu sen……..satu sen……… “Thinking penny-wise”………”Proud” : congkak, congkak, “Foolish” : bodoh.
Oleh karena akhirnja merugikan dia punja diri sendirilah, kita itu, Saudara-saudara, 350 tahun dicekoki dengan “Hollands denken” itu. Saudara-saudara, kita 350 tahun ikut-ikut, lantas mendjadi orang jang berpikir “penny-wise, proud and foolish”
Jang tidak mempunjai “imagination”, tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunjai keberanian – Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa jang mempunjai “imagination”, mempunjai fantasi-fantasi besar: mempunjai keberanian ; mempunjai kesediaan menghadapi risiko ; mempunjai dinamika.
Washington Monument, didirikan tahun 1884
George Washington Monument misalnja,
tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masja Allah!!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad jang lalu, Saudara-saudara. Tingginja! Besarnja! Saja kagum arsiteknja jang mempunjai “imagination” itu, Saudara-saudara.
Bangsa jang tidak mempunjai : imagination” tidak bisa membikin Washington Monument. Bangsa jang tidak mempunjai “imagination”………ja, bikin tugu, ja “rongdepo”, Saudara-saudara. Tugu “rong depo” katanja sudah tinggi, sudah hebat.
“Pennj-wise” tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita – atau mereka – djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai “imagination”,: “imagination” hebat, Saudara-saudara.
Perlu djembatan? Ja, bikin djembatan……tetapi djangan djembatan jang selalu tiap tiap sepuluh meter dengan tjagak, Saudara-saudara, Ja , umpamanja kita di sungai Musi…….Tiga hari jang lalu saja ini ditempatnja itu lho Gubernur Sumatera Selatan – Pak Winarno di Palembang – Pak Winarno, hampir hampir saja kata dengan sombong, menundjukkan kepada saja “ini lho Pak! Djembatan ini sedang dibikin, djembatan jang melintasi Sungai Musi” – Saja diam sadja -”Sungai Ogan” – Saja diam sadja, sebab saja hitung-hitung tjagaknja itu. Lha wong bikin djembatan di Sungai Ogan sadja kok tjagak-tjagakan !!
Kalau bangsa dengan “imagination” zonder tjagak, Saudara-saudara !!
Tapi sini beton, tapi situ beton !! Satu djembatan, asal kapal besar bisa berlalu dibawah djembatan itu !! Dan saja melihat di San Fransisco misalnja, djembatan jang demikian itu ; djembatan jang pandjangnja empat kilometer, Saudara-saudara ; jang hanja beberapa tjagak sadja.
Satu djembatan jang tinggi dari permukaan air hingga limapuluhmeter; jang kapal jang terbesar bisa berlajar dibawah djembatan itu. Saja melihat di Annapolis, Saudara-saudara, satu djembatan jang lima kilometer lebih pandjangnja, “imagination”, “imagination” “imagination”!!! Tjiptaan besar!!!
Jembatan raksasa Golden Gate di San Francisco,sudah berdiri sejak tahun 1937
Kita jang dahulu bisa mentjiptakan tjandi-tjandi besar seperti Borobudur, dan Prambanan, terbuat dari batu jang sampai sekarang belum hancur ; kita telah mendjadi satu bangsa jang kecil djiwanja, Saudara-saudara!! Satu bangsa jang sedang ditjandra-tjengkalakan didalam tjandra-tjengkala djatuhnja Madjapahit, sirna ilang kertaning bumi!! Kertaning bumi hilang, sudah sirna sama sekali. Mendjadi satu bangsa jang kecil, satu bangsa tugu “rong depa”.
Candi raksasa Borobudur di Indonesia, sudah berdiri sejak abad 9 Masehi!
Saja tidak berkata berkata bahwa Grand Canyon tidak tjantik. Tapi saja berkata : Tiga danau di Flores lebih tjantik daripada Grand Canyon. Kita ini, Saudara-saudara, bahan tjukup : bahan ketjantikan, bahan kekajaan. Bahan kekajaan sebagai tadi saja katakan : “We have only scratched the surface ” – Kita baru `nggaruk diatasnja sadja.
Kekajaan alamnja, Masja Allah subhanallahu wa ta’ala, kekajaan alam. Saja ditanja : Ada besi ditanah-air Tuan? – Ada, sudah ketemu :belum digali. Ja, benar! Arang-batu ada, Nikel ada, Mangan ada, Uranium ada. Percajalah perkataan Pak Presiden. Kita mempunjai Uranium pula.
Kita kaja, kaja, kaja-raja, Saudara-saudara : Berdasarkan atas “imagination”, djiwa besar, lepaskan kita ini dari hal itu, Saudara-saudara.
Gali ! Bekerdja! Gali! Bekerdja! Dan kita adalah satu tanah air jang paling cantik di dunia.

histories   

Tuesday, October 22, 2013

apakah SAINS membuat Manusia BERMORAL???

       Tuhan dan agama diyakini mampu memberi tuntutan. Ajaran agama mengajak orang untuk tidak menghakimi orang lain, peduli kepada orang lain, dan tidak membunuh dan mencuri, walau tidak selalu dilakukan oleh yang memercayainya. Di sisi lain, sains memberi banyak pencerahan, misalnya tentang alam semesta, sebab penyakit, dan sebagainya. Pencerahan dalam sains membantu manusia bersikap. Contoh, tak perlu mendiskriminasi dan menjauhi penderita HIV/AIDS karena toh penyakit itu tak ditularkan dengan mudah tanpa kontak darah. Sementara itu, Tuhan dan agama diakui berpengaruh terhadap moralitas, bagaimana dengan sains? Apakah memang benar bahwa selain mampu menguak banyak hal di alam dan membantu kehidupan manusia, sains juga membuat manusia lebih bermoral?
           Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal PLoS ONE, 6 Maret 2013 lalu, tim ilmuwan dari University of California Santa Barbara yang dipimpin oleh C Ma-Kellams menyatakan bahwa keyakinan pada sains juga memengaruhi moralitas. 
          Kesimpulan tersebut diambil setelah tim peneliti melakukan empat studi. Pada studi pertama, ilmuwan menyuguhkan sebuah skenario tentang pasangan, John dan Sally, yang berkencan dan terlibat seks non-konsensual, kepada sukarelawan yang terlibat studi. Ilmuwan meminta sukarelawan untuk menilai perbuatan John. Kemudian, ilmuwan menanyakan seberapa percaya sukarelawan terhadap sains. Keyakinan sukarelawan terhadap sains dinilai dari skala angka 1 hingga 7. Dalam studi kedua, ilmuwan meminta membaca skema dalam studi pertama dan memberi judgement lagi. Sementara dalam studi ketiga, ilmuwan menanyakan niat sukarelawan untuk mendonorkan darah, menyumbang, serta melakukan perbuatan sosial lainnya.
     Terakhir, dalam studi keempat, ilmuwan menyuguhkan sebuah permainan ekonomi. Sukarelawan diberi uang 5 dollar AS dan diminta membagi antara dirinya dengan orang lain. Dalam akhir permainan, uang itu diberikan sebagai hadiah. Untuk studi kedua hingga keempat, ilmuwan membagi sukarelawan dalam dua grup, kontrol dan sains. Sebelum menjadi sukarelawan dalam studi itu, ilmuwan "memengaruhi" pikiran masing-masing grup. Untuk grup sains, ilmuwan memperkenalkan beberapa kata terkait sains, seperti laboratorium, hipotesis, dan teori. Dalam seluruh studi, terungkap bahwa jender tidak memberi pengaruh. Namun, derajat keyakinan terhadap sains berkorelasi secara positif dengan moralitas yang diukur berdasarkan parameter yang diujikan, seperti judgement dan niat berbuat sosial. Terungkap bahwa bahkan hanya berpikir tentang sains saja mampu memengaruhi moralitas dan tindakan seseorang. Di sini, dibuktikan bahwa sains tidak hanya bisa memberi pengetahuan tetapi juga mampu memengaruhi sikap seseorang. (IBA)